Meiga Fristya Laras Sakti.
Nama yang panjang jika dibandingkan saya yang hanya dua kata.
kami sudah berteman semenjak saya SD (seingat aan
sih gitu). rumahnya selalu jadi tujuan saya untuk bermain, karena kebetulan kita bertetangga. Tetangga Oh tetangga. Kami bermain boneka, bermain sapintrong, maen monopoli, maen sepeda, ampe maen kaleci juga dilakonin (boong banget).
saya masih ingat, dulu saya adalah orang yang galak. Dalam pertemanan kami, saya sering "menindas" dia. cailah, kalo inget masa-masa itu rasanya saya malu. dalam pertemanan kami juga, seorang Meiga sering sekali mengalah. Ckck. Untunglah teman saya yang satu ini begitu baik.
pernah suatu saat saya begitu ngotot mempertahankan pendapat tentang suatu hal. Ceritanya, entah apa awal mulanya. Namun yang pasti kami berdua lagi ngomongin keramik (keren banget pan masih kecil omongannya udah tentang material bangunan?? haha). Dia bilang kalau rumahnya sekarang sedang dikeramik. Aan kecil bilang, "bumi abi oge anggo keramik (rumah saya juga pake keramik)". Tentu saja, Meiga yang tahu keadaan rumah saya seperti apa langsung menolak "Ih eta mah sanes keramik (ih, itu mah bukan keramik)". Aan kecil gak mau terima, langsung nyolot dengan teriak "IH KERAMIK". Meiga hanya diam saja ketika itu.
kejadian itu selalu saya ingat hingga sekarang. koment
ar saya tentang Aan kecil waktu itu adalah "udah salah, ngotot lagi. emang oneng pisan dah". sebenarnya banyak kejadian ketika kami kecil. Namun saya lupa. Maklum, pengaruh usia kali yaa??
beranjak SMP, kami berdua memilih sekolah yang sama. Namun dalam tiga tahun itu kami tidak pernah dipertemukan dalam kelas yang sama. Meskipun begitu, kami selalu berangkat dan pulang bersama-sama. duh romantis bener dah. haha.
Meiga yang bisa dibilang anak berada selalu mengikuti saya yang ketika SMP berangkat ke sekolah dengan menyusuri sawah. padahal, saya yakin uang jajannya sa
ngatlah mencukupi untuk naik angkutan umum. Namun, seperti yang saya bilang, dia terlalu baik.
Efek dari seringnya menyusuri sawah itu adalah membuat kulit hitam dan sangat kucel. Tapi dia masih saja mau menyusuri hijaunya sawah di samping pabrik Dehatex di bawah teriknya matahari.
perpisahan SMP pun tiba, kami berdua berangkat ke sekolah menaiki mobil ayah Meiga. saya masih ingat, dia begitu cantik dengan dandanan dan sanggul kecil yang neplok di rambutnya (aduh maaf, bahasanya amburadul. hehe). Kebayanya berwarna oranye agak agak krem kalo gak salah. Intinya, penampilannya mengagumkan.
Selepas SMP, kami memilih sekolah yang berbeda. Bakat seni yang mengalir dalam tubuhnya membuat dia melanjutkan ke SMKI Bandung. kami pun mulai jarang bertemu, hanya sesekali saja. Saya tahu, dia pasti berhasil jika menempuh jalan yang memang dia minati dan berbakat disana.
Masa kuliah, dia pernah berkuliah di FIKOM UNPAD. Namun hanya satu tahun saja. Tahun 2006, dia melanjutkan ke STSI. masa-masa yang sangat sibuk ini membuat kami tak pernah bertemu. SUNGGUH SANGAT JARANG.
Saya hanya sering mendengar kabarnya dari ibunya yang k
ebetulan bercerita kepada ibu saya.
Dan ternyata, teman kecil saya ini sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Hmm, rasanya kalau ingat zaman-zaman ketika kecil saya gak percaya dia sekarang akan menikah dan akan menjadi seorang istri serta menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.
![]() |
| ini foto pre wed dia. Maaf mey ah, nyuri satu. hehe |
hmm.. teman kecilku telah beranjak dewasa.
temanku yang baik akan memulai hidup barunya.
An cuman bisa berdoa semoga keluarganya menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Amien
selamat menempuh hidup baru meiga ku sayang

hah.... wah..... aya nu miheulaan deui...hehehe....
BalasHapushaha,tenang gy..
BalasHapus