sore itu saya lagi ngumpul sama mamah dan anggota keluarga lainnya (ya iyalah, masa sama anggota geng??). si ida (my lil sist) ngeliatin baju agen paskibra nya yang baru ia dapet dari sekolah.
hal itu jadi ngingetin saya kalo dulu pernah bercita-cita jadi seorang pengibar bendera dalam upacara kemerdekaan di Istana Merdeka.
berbeda dengan adik saya yang ketika SD pun sudah mulai mengibarkan bendera di sekolah. Saya ketika SD kebagian jadi pembaca doa.
jadi pengen flashback ke masa lalu nih. jaman ketika saya berkenalan dengan mic dan TOA untuk membacakan doa di hari senin pagi.
ketika itu, upacara bendera belum dimulai. aan kecil yang rambutnya cepak kayak anak laki-laki udah berbaris rapi bersama teman-teman lainnya. tiba-tiba Pak Entis sang guru olahraga mendatangi aan (yang masih gendut). beliau membawakan sebuah map batik berwarna coklat. dengan entengnya beliau nodong "ayo maju jadi pembaca doa, kamu gantiin Teh Ana yang gak bisa dateng".
aan kecil memang penurut. tanpa ngomong apa-apa aan kecil cuman maju ke tempat para petugas upacara lainnya. tiba pada saat aan kecil harus maju bacain doa,
seluruh lutut ini rasanya bergetar dan mau coplok. namun akhirnya, aan bisa melalui semuanya dengan penuh kelegaan. dan mulai saat itu, aan yang asalnya hanya sebagai petugas yang menggantikan seorang kakak kelas pembaca doa telah diangkat menjadi pegawai tetap (jiah) untuk urusan baca doa ketika upacara senin pagi. hehe.. lalu apa hubungannya dengan cita-cita pengibar bendera??
silahkan pikir sendiri!!
ehhe
sarap!
BalasHapushaha.. kovlok
BalasHapus